Pelemahan Rupiah

   Satu bulan yang lalu, pada awal bulan September 2018, keuangan Indonesia cukup dikagetkan dengan nilai tukar US dollar terhadap rupiah yang menyentuh level psikologis pada angka Rp 14.800,00. Namun, nilai tukar US dollar terhadap rupiah kembali melemah di awal Oktober ini yang tentunya mengejutkan kembali dan tembus di angka Rp 15.000,00. Pada tanggal 1 Oktober, USD 1 masih senilai Rp 14.902,00 dan kemudian menjadi Rp 15.053,00 pada tanggal 2 Oktober (data berdasarkan yahoo finance). Hal ini merupakan level psikologis baru dan yang terlemah sepanjang 20 tahun terakhir.

   Hal-hal yang menyebabkan pelemahan nilai tukar US Dollar terhadap rupiah ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: kemungkinan adanya kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, krisis ekonomi yang dihadapi oleh negara lain seperti Afganistan dan Turki yang dapat berdampak kepada Indonesia dan negara lainnya, dan kondisi global yang tidak pasti karena maraknya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Bisa dikatakan bahwa faktor eksternal merupakan penyebab utama lemahnya nilai tukar mata uang.

   Secara kasat mata, nilai tukar rupiah yang melemah ini dapat terlihat sebagai tanda terpuruknya kondisi perekonomian dan keuangan Indonesia. Lemahnya kondisi keuangan Indonesia bukan dilihat dari nilai rupiahnya (Rp 14.000,00 – Rp 15.000,00), tapi dari sisi pembandingnya. Jika dibandingkan dengan negara lain yang masih berkembang, nilai tukar rupiah masih tergolong cukup baik. Negara berkembang lain yang juga mengalami pelemahan nilai tukar mata uang justru kondisinya lebih terpuruk.

   Sampai pada tanggal 3 Oktober, BI mencatat sebesar 9,82 persen nilai tukar rupiah melemah. Pelemahan ini bermula dari Rp 13.700,00 di awal tahun 2018 dan menjadi Rp 15.000 hingga beberapa hari terakhir. Persentase ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan Rupee India sebesar 12,4%, Rand Afrika Selatan sebesar 13,8%, dan Lira Turki sebesar 37,7%. Menariknya, Thailand merupakan negara berkembang yang nilai tukar mata uangnya tidak terpengaruh oleh pelemahan ini. Pencapaian ini dikarenakan surplus devisa hingga puluhan miliar US Dollar.

   Oleh karena itu, ada baiknya Indonesia belajar dan berkaca dari Thailand yang masih dapat mempertahankan kestabilan nilai tukar mata uang mereka dengan memperkuat devisa ataupun dengan cara menaikkan kembali suku bunga acuan oleh BI dan melonggarkan transaksi di pasar keuangan. Selain itu, kita sebagai orang Indonesia sedikitnya dapat membantu dengan cara membeli produk-produk lokal ataupun dengan melakukan domestik trip. Hal ini dapat mendongkrak pendapatan entrepreneur dalam negeri dan meningkatkan pariwisata Indonesia. Keinginan untuk memegang rupiah pun mempunyai pengaruh besar dalam menurunkan nilai tukar rupiah yang artinya kita tidak terbawa arus untuk menukar rupiah ke US Dollar. Yuk, kita bantu berkontribusi untuk “Aku cinta rupiah” dan memegang uang yang gambarnya burung garuda! 

 

 

– SAHH