Strategic Capital Allocation: Optimizing Portfolio Assets for Long term Growth
Binus Finance Program bersama dengan KelaSaham berkerja sama mengadakan Seminar bertajuk “Strategic Capital Allocation: Optimizing Portfolio Assets for Long term Growth”. Seminar ini mengundang narasumber yaitu Pak Leo Winardi yaitu Co-founder dari KelaSaham. Pada seminar ini, Pak Leo memulai dengan menjelaskan macam-macam asset yang dapat dilakukan investasi. Dimulai dari deposito dengan return terendah, hal ini dikarenakan memang deposito adalah instrument yang paling tidak beresiko. Kemudian, terdapat obligasi yaitu surat hutang yang memiliki return rata-rata kurang lebih sekitar 7 persen. Selanjutnya, instrumen lain yang ada di pasar adalah reksa dana, yang terdiri dari berbagai maca asset. Reksadana pasar uang memiliki return sekitar 4-5%. Untuk tipe reksa dana lain yaitu, Reksa dana pendapatan tetap memiliki return di sekitar 5-9%, reksadana campuran memiliki return sekitar 7-9% dan reksadana saham sekitar 7-12%. Kemudian, Pak Leo juga menjelaskan dengan data yang dimiliki bahwa kalau kita membeli IHSG return rata-ratanya hanya sekitar 4%, sehingga sebaiknya melakukan stock picking.
Aset yang lain yang bisa dimasukkan ke dalam portfolio adalah property. Walaupun memang properti cenderung sulit untuk investor muda, karena harga yang ditawarkan cukup mahal. Apa yang bis akita harpakan dari property? Capital gain dan imbal hasil, sama seperti dengan aset yang lain. Yang paling penting dari property apa? LOKASI! Selain itu juga perlu dilihat dari demand dan supply, karena sangat akan mempengaruhi harga. Kemudian instrument terakhir yang dianggap bahwa asset ini bukan investasi yaitu emas (Safe-Haven). Akan tetapi return dari emas selama 10 tahun terakhir memeliki return yang cukup tinggi yaitu disekitar 10%. Bahkan lebih tinggi dari IHSG, Obligasi dan reksa dana.
And next, how to start? Mulai dari circle of competence, pilihlah asset yang paling dipahami. Dari asset yang paling kenal misalnya yang paling kita tahu adalah saham, maka fokuslah pada saham. Dampaknya kalau kita tidak focus, maka portfolio kita akan menjadi overdiversifikasi, return menjadi tidak maksimal. How about 60/40 portfolio yaitu 60% saham dan 40% obligasi. Hal ini dikarenakan pergerakan harga saham dan obligasi cenderung bergerak berlawanan. Next, all weather portfolio yaitu strategi investasi yang dirancang untuk bertahan dalam segala kondisi ekonomi.
Lalu caranya untuk melihat performance portfolio, benchmark yang biasa kita gunakan adalah IHSG dan Money Supply. Alasan kenapa bisnis di Indonesia agak kurang baik ditahun 2023-2024, karena money supply indonesia bertumbuhnya hanya 4%. Ini juga yang menyebabkan Indonesia yang melemah. Umumnya Fund manager seringkali mempertimbangkan pelemahan rupiah. Menurut KelaSaham, karena mereka expertise nya di kelasaham, yang mereka percaya the best portfolio mereka adalah terdiri dari 3 saham: 40% saham utama, 30% masing masing untuk kedua saham yang lain. Atau jika mau menjadi 4 saham yaitu: 40% saham utama, 30% saham kedua, 15% masing masing untuk saham 3 dan 4. Jika memang ada yang tidak dipercaya atau tidak confident, better untuk memegang cash. Hal terakhir yang disampaikan oleh Pak Leo, bahwa ada investasi pada aset tidak berwujud. Dan hal ini contohnya yaitu berinvestasi pada diri sendiri dan ini tidak ada persentase maksimalnya. Sebaiknya investasi dulu pada diri sendiri dan tidak maksimal persentase.
Comments :