(Catatan ringan tentang akuntansi, keyakinan, dan keterlambatan mengakui kesalahan)

Salah satu paradoks di dunia investasi adalah ini:


mereka yang paling terlatih secara analitis sering kali justru paling sulit melakukan koreksi ketika kondisi memburuk


Fenomena ini biasanya dijelaskan dengan istilah psikologis seperti loss aversion atau overconfidence. Namun penjelasan tersebut sering tidak cukup. Banyak analis sebenarnya sadar bahwa harga bergerak berlawanan dengan posisi mereka. Masalahnya bukan ketidaktahuan, melainkan ketidakmauan—atau lebih tepatnya, ketidakmampuan struktural—untuk mengakui kesalahan terlalu dini.

Dalam lingkungan yang sangat bergantung pada laporan keuangan dan model formal, kesalahan bukan sekadar kerugian finansial. Kesalahan adalah peristiwa epistemik: ia menantang kerangka pengetahuan yang telah dibangun, dipresentasikan, dan dipertahankan secara institusional.

Di sinilah peran akuntansi menjadi menarik. Akuntansi tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga memberi legitimasi. Ia menentukan kapan suatu kondisi dianggap “cukup nyata” untuk diakui. Selama laba belum turun signifikan, impairment belum dicatat, atau narasi manajemen masih terdengar optimistis, kesalahan belum sepenuhnya sah untuk diakui.

Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh Robert Shiller dalam karyanya tentang narrative economics, keyakinan kolektif sering bergerak lebih cepat daripada data formal. Pasar membentuk cerita, lalu bertindak berdasarkan cerita tersebut, jauh sebelum angka akuntansi mengejarnya. Ketika narasi mulai retak, harga bisa menyesuaikan lebih dulu, sementara laporan keuangan masih terlihat “aman”.

Kondisi ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai epistemic cost of being wrong, biaya kognitif, reputasional, dan institusional untuk mengakui kesalahan sebelum sistem pengukuran formal mengizinkannya. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut dalam karya penulis yang sedang berjalan, yang menelaah bagaimana pembenaran berbasis akuntansi dapat menunda koreksi keyakinan dalam pengambilan keputusan keuangan. Bagi analis, mengakui kesalahan terlalu cepat berarti meruntuhkan model yang masih tampak defensible di atas kertas.

Literatur behavioral accounting telah lama menekankan bahwa angka akuntansi bukan sekadar representasi realitas ekonomi, melainkan hasil dari aturan pengakuan, estimasi, dan pertimbangan profesional. Ketika aturan ini bersifat konservatif dan berbasis verifikasi, pengakuan kerugian cenderung tertunda. Akibatnya, koreksi keyakinan di tingkat organisasi juga ikut tertunda.

Paradoksnya, semakin canggih alat analisis yang digunakan, semakin mahal biaya epistemik untuk melakukan koreksi. Penyesuaian pun jarang terjadi secara bertahap; ia lebih sering datang terlambat dan bersifat abrupt.

Dalam konteks ini, akuntansi bukanlah sumber kesalahan, melainkan mekanisme legitimasi. Ia membuat keputusan bisa dipertanggungjawabkan, tetapi sekaligus menentukan kapan realitas boleh diakui. Investasi akhirnya bukan hanya soal membaca angka, melainkan soal keberanian menghentikan kepercayaan pada angka yang belum tentu salah secara formal—tetapi sudah salah secara ekonomi.

Penutup Reflektif

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi analis, investor, maupun praktik akuntansi. Sebaliknya, penulis mengajak kita semua melihat bahwa banyak keputusan yang tampak “terlambat” sering kali lahir dari sistem yang justru dirancang untuk menuntut kehati-hatian, pembenaran, dan legitimasi. Dalam konteks ini, keterlambatan koreksi bukan semata kegagalan individu, melainkan konsekuensi dari cara sistem pengukuran formal membentuk bagaimana keyakinan diperbarui di dalam organisasi. Di dunia yang semakin kompleks dan terukur, tantangan utamanya mungkin bukan kekurangan data, melainkan keberanian untuk mengoreksi keyakinan sebelum seluruh angka memberi izin. Di titik inilah akuntansi, perilaku manusia, dan pengambilan keputusan strategis bertemu, bukan sebagai lawan, melainkan sebagai medan pembelajaran bersama yang terus berkembang.

Referensi Bacaan
  • Shiller, R. J. (2017). Narrative Economics. American Economic Review.
  • Birnberg, J. G. (2011). A proposed framework for behavioral accounting research. Behavioral Research in Accounting.
Tentang Penulis

Penulis tertarik pada persinggungan antara akuntansi, perilaku manusia, dan pengambilan keputusan strategis. Agenda risetnya berfokus pada bagaimana sistem pengukuran formal memengaruhi cara organisasi mengenali kesalahan dan merespons perubahan kondisi ekonomi.

Disclaimer

Artikel ini lahir dari diskusi panjang, serius, dan kadang terlalu filosofis antara penulis dan sebuah kecerdasan buatan. AI tidak memiliki saham, tidak pernah cut loss, dan tidak pernah naik KRL jam tujuh pagi. Segala kesalahan logika tetap sepenuhnya tanggung jawab penulis manusia. AI hanya membantu merapikan kata-kata, keyakinan dan keraguannya tetap organik karena masih makan nasi dan minum kopi.


“Formal measurement membuat kita rapi dalam berpikir, dan justru karena itu, sering terlambat dalam berhenti percaya.”