Ketika Pohon Terlihat Rimbun… Tapi Akarnya Belum Tentu Dalam

Pendahuluan: Ilusi yang Terlihat Sehat

Dalam finance, kita sering terjebak pada apa yang terlihat.

  • GDP tumbuh 5,6%
  • Government spending naik sekitar 21%

Di permukaan, ini terlihat seperti cerita pertumbuhan yang solid.

Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah ini pertumbuhan yang benar benar bertumbuh… atau hanya fatamorgana?

Analogi: Dua Pohon dalam Satu Taman

Bayangkan dua pohon.

Yang satu tumbuh cepat, rimbun, daunnya lebat.
Yang satu lagi tumbuh lebih lambat, tidak terlalu mencolok, biasa saja.

Secara visual, hampir semua orang akan memilih pohon pertama sebagai simbol “kesehatan”.

Tapi dalam ekonomi, seperti juga di alam,
penilaian dari permukaan seringkali menipu.

Pohon Rimbun: Pertumbuhan yang Terlihat Kuat

Pohon pertama tumbuh dengan cepat karena:

  • terus-menerus diberi steroid/ obat pertumbuhan
  • dipupuk kimia secara masif intensif dan terstruktur

Ini mirip dengan kondisi ketika:

  • pertumbuhan didorong oleh belanja pemerintah
  • bukan oleh ekspansi produktivitas atau investasi swasta

Dalam konteks saat ini:

  • pertumbuhan 5,6% sebagian besar ditopang oleh kenaikan government spending ~21%
  • komposisi belanja cenderung ke konsumsi jangka pendek
  • sebagian belanja memiliki import content tinggi

Artinya, terjadi leakage ke luar negeri sehingga:

  • multiplier effect domestik menjadi terbatas

Konsep ini sejalan dengan literatur dalam Macroeconomics terkait fiscal multiplier, di mana efektivitas belanja sangat bergantung pada:

  • komposisi belanja
  • kandungan impor
  • kondisi siklus ekonomi

Akar yang Dangkal: Masalah yang Tidak Terlihat

Menurut Olivier Blanchard dan Daniel Leigh, multiplier fiskal bisa jauh lebih kecil dari ekspektasi ketika:

  • ekonomi terbuka (import leakage tinggi)
  • belanja tidak produktif
  • atau kebijakan tidak menciptakan kapasitas baru

Selain itu, studi oleh International Monetary Fund menunjukkan bahwa:

belanja infrastruktur cenderung memiliki multiplier lebih tinggi dibanding belanja konsumtif.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa:

tidak semua stimulus menghasilkan dampak yang sama

Ketika Badai Datang: Ujian Stabilitas

Tekanan eksternal mulai terlihat melalui beberapa indikator:

  • Rupiah melemah ke sekitar 17.400/USD
  • Cadangan devisa turun sekitar USD 8 miliar
  • Defisit fiskal mencapai sekitar Rp240 triliun (per Mei)
  • Posisi utang pemerintah mencapai Rp9.637 triliun (Maret 2026)
  • Beban jatuh tempo utang 2026 sekitar Rp833,96 triliun

Kombinasi ini menunjukkan:

pertumbuhan terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan fiskal dan eksternal

Pohon Kedua: Pertumbuhan yang Mengakar

Pohon kedua tumbuh secara organik:

  • dipupuk dengan kompos
  • dirawat dengan ketekunan

Dimana, pertumbuhan yang “deep” biasanya berasal dari:

  • investasi produktif
  • peningkatan produktivitas
  • penguatan industri domestik
  • ekspor bernilai tambah

Penelitian oleh Robert Barro menekankan bahwa:

pertumbuhan jangka panjang sangat dipengaruhi oleh akumulasi modal dan produktivitas, bukan sekadar stimulus jangka pendek.

Sementara itu, Paul Romer dalam teori pertumbuhan endogen menunjukkan bahwa:

inovasi dan human capital adalah sumber utama pertumbuhan yang berkelanjutan.

Deep vs Shallow Growth

Shallow Growth

  • driven by stimulus fiskal
  • konsumsi jangka pendek
  • leakage tinggi (impor)
  • tidak meningkatkan kapasitas

cepat terlihat, tapi tidak tahan lama

Deep Growth

  • driven by investasi & produktivitas
  • memperkuat struktur ekonomi
  • multiplier tinggi
  • menciptakan efek jangka panjang

lebih lambat, tapi berkelanjutan

Perspektif Filsafat & Ekonomi

Seperti dikatakan oleh Friedrich Nietzsche:

What does not kill me makes me stronger.

Dalam ekonomi, tekanan eksternal justru menjadi ujian kualitas struktur.

John Maynard Keynes juga mengingatkan bahwa:

The difficulty lies not so much in developing new ideas as in escaping from old ones.

Salah satu ide lama yang masih melekat:

pertumbuhan tinggi = pertumbuhan sehat

Dan seperti sindiran dari Mark Twain:

It ain’t what you don’t know that gets you into trouble. It’s what you know for sure that just ain’t so.

Menjadikan semuanya seolah akan datang economic tsunami tapi pemerintah terlihat seperti orang yang memilih untuk euforia karena banyaknya ikan di air yang tetiba surut alih-alih segera  mencari perlindungan ke tempat yang lebih tinggi.

We are all just human afterall.

Implikasi bagi Investor

Jika pertumbuhan didominasi oleh shallow drivers:

  • risiko growth reversal meningkat
  • tekanan terhadap currency berlanjut
  • biaya pembiayaan utang bisa naik
  • potensi mispricing di market meningkat

Investor yang hanya melihat headline growth berisiko:

overestimating sustainability

Kesimpulan

Tidak semua pertumbuhan mencerminkan kekuatan.

Dalam kasus ini, pertumbuhan:

  • terlihat tinggi (5,6%)
  • namun ditopang oleh stimulus fiskal dengan multiplier terbatas

ini lebih mendekati:

pohon yang rimbun… tapi akarnya belum cukup dalam

Closing Reflection

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:

“Seberapa tinggi pohonnya tumbuh?”

Melainkan:

“Seberapa dalam akarnya?”

Dan seperti yang diingatkan oleh Warren Buffett:

Only when the tide goes out do you discover who’s been swimming naked.

Dalam ekonomi, “air surut” itu pasti datang.

Yang tersisa nanti hanya dua jenis:

  • yang benar-benar mengakar dan berdiri tegak
  • dan yang selama ini hanya terlihat rimbun dan tumbang saat badai datang

Referensi Singkat

  • International Monetary Fund – Fiscal Monitor & multiplier studies
  • Olivier Blanchard & Daniel Leigh (2013) – Growth forecast errors & fiscal multipliers
  • Robert Barro – Economic growth & capital accumulation
  • Paul Romer – Endogenous growth theory
  • John Maynard Keynes – General Theory & fiscal policy

#DeepVsShallowGrowth #Macroeconomics #BehavioralFinance #EconomicStructure #Indonesia

Disclaimer

Artikel ini dibuat dengan bantuan AI sebagai teman diskusi dan tukang merapikan kalimat.

Namun analogi pohon dan tsunami sepenuhnya berasal dari imajinasi penulis sendiri, hasil kombinasi antara overthinking, pengalaman hidup, dan rasa deg-degan melihat kondisi ekonomi yang kadang lebih plot twist daripada sinetron azab.

AI hanya membantu menyusun kata-kata.

Yang merasakan jantung berdebar tiap lihat berita ekonomi, grafik, dan nilai tukar tetap penulis. Karena sampai hari ini, AI belum pernah merasakan sensasi:

“ini beneran mau krisis apa cuma pemerintah doang yang lagi nge-prank?”