Pasar saham sering kali terlihat penuh kepanikan ketika kondisi global memburuk. Mulai dari tensi geopolitik, ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia, hingga sentimen “wait and see” dari investor dapat memicu tekanan besar di pasar keuangan. Namun di tengah kepanikan tersebut, pernahkah kita berpikir: siapa yang memastikan pasar tetap berjalan normal?

Melalui talkshow StockQuest 2026 bertajuk “Kenapa Pasar Saham Tetap Jalan Walau Banyak yang Panik”, peserta seminar diajak memahami sisi lain dari pasar modal Indonesia, bukan hanya dari perspektif investor, tetapi juga dari lembaga yang menjaga stabilitas sistem perdagangan dan penyelesaian transaksi di balik layar.

Talkshow ini menghadirkan Raja Nobriansyah, Associate Vice President Head of Business Risk Analysis PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), bersama moderator Hermawan Suryawijaya, Faculty Member of Finance Program BINUS University.

Apa yang Terjadi di KPEI Saat Market Panik?

Ketika market mengalami tekanan besar, KPEI tidak hanya “menonton” pergerakan pasar. Ada serangkaian proses monitoring dan mitigasi risiko yang langsung dijalankan untuk memastikan sistem tetap stabil. Hal pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa sistem settlement dan kliring tetap berjalan dengan baik. Tim KPEI akan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap infrastruktur sistem untuk memastikan tidak ada gangguan operasional yang dapat menyebabkan transaksi investor tertunda atau gagal diproses. Karena di mata investor, keterlambatan transaksi sering kali dianggap sebagai “system error”, padahal di belakangnya terdapat proses pengelolaan risiko yang kompleks agar seluruh transaksi tetap dapat diselesaikan dengan aman.

Memastikan Broker Tetap Memiliki Funding yang Cukup

Dalam kondisi pasar yang sangat volatile, tekanan terbesar biasanya juga dirasakan oleh perusahaan sekuritas atau broker. Oleh karena itu, KPEI akan melihat kondisi funding dan limit masing-masing broker. KPEI melakukan sensitivity analysis untuk mengidentifikasi broker mana yang paling terdampak oleh tekanan pasar. Jika ditemukan indikasi bahwa suatu broker mengalami tekanan likuiditas, maka langkah komunikasi dan mitigasi akan segera dilakukan agar kewajiban penyelesaian transaksi tetap terpenuhi. Tujuannya sederhana namun sangat krusial: memastikan order nasabah tidak “nyangkut” dan pasar tetap berjalan secara orderly.

Stress Test: Seberapa Kuat Sistem Pasar Indonesia?

Salah satu poin menarik yang dibahas dalam talkshow adalah bagaimana KPEI secara rutin melakukan stress test untuk mengukur ketahanan sistem pasar modal Indonesia. Stress test dilakukan setiap bulan menggunakan metodologi Monte Carlo Simulation. Dalam simulasi tersebut, KPEI menguji berbagai skenario ekstrem, termasuk asumsi apabila dua broker terbesar mengalami gagal bayar secara bersamaan. Dari hasil simulasi inilah KPEI dapat mengukur apakah dana perlindungan dan mekanisme penjaminan yang dimiliki masih cukup untuk meng-cover risiko pasar. Jika suatu saat kondisi ekstrem melebihi kapasitas perlindungan KPEI, maka regulator seperti OJK dapat mengambil langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Indonesia Semakin Siap Menghadapi Ketidakpastian Global

Di tengah ketidakpastian global saat ini, Indonesia terus memperkuat kesiapan sistem keuangannya. Mulai dari pengujian berkala, peningkatan pengawasan risiko, hingga penyesuaian kebijakan moneter seperti BI Rate untuk menjaga stabilitas pasar. Menurut KPEI, tujuan utama dari seluruh proses ini adalah memastikan bahwa pasar modal Indonesia tetap resilient dan mampu menghadapi berbagai kemungkinan risiko di masa depan. Melalui sesi ini, peserta tidak hanya belajar tentang investasi dan trading, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap transaksi saham, terdapat sistem pengawasan dan manajemen risiko yang bekerja tanpa henti agar pasar tetap berjalan dengan aman.